Rabu, 08 April 2015

KEPUNAHAN HARIMAU JAWA (Panthera tigris sondaica)



Nama Kelompok:
Irma Asra Suryani (714.7.1.0236)
Nur Azizah (714.7.1.0)
Idayatus Sholihah (714.7.1.0)

KEPUNAHAN HARIMAU JAWA
(Panthera tigris sondaica)
Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSq7uFkZWLuo_C8_BAXaimKYT03cm-NZhAALXQ5AiCegirZwX8B2w
Kekayaan Biodiversitas Indonesia memiliki keanekaragaman yang tergolong tinggi di dunia, bahkan Indonesia juga dianggap sebagai sisa ‘Atlantis’ benua yang hilang. Hal ini berarti segala kekayaan Plasma Nutfah yang ada di Indonesia saat ini merupakan warisan penting yang harus diselamatkan. Padahal “ekosistem pulau” yang dimiliki Indonesia memiliki tingkat ancaman kepunahan tinggi karena sifatnya yang ‘fragil’. Kondisi tersebut membuka peluang bagi percepatan kepunahan segala spesies mamalia darat terutama golongan karnivora besar. Adapun spesies itu salah satunya adalah harimau loreng yang berada di Pulau Jawa –sebuah pulau yang terpadat penduduknya.
Harimau loreng tergolong karnivor besar yang memiliki daerah sebaran geografis sangat luas, membentang dari lembah Tigris di Siberia hingga di Rusia Timur; lalu di India kecuali Srilangka; kemudian di Indocina dan semenanjung Malaysia; hingga di kepulauan Indonesia meliputi Sumatera, Jawa dan Bali. Satwa ini dianggap berasal dari lembah Tigris yang kemudian menyebar hingga di Bali melewati rentang waktu ribuan tahun. Adanya perubahan tinggi permukaan air laut dan fragmentasi antar populasi, menjadikan spesies harimau loreng dikenal dengan 8 sub-spesies. Sedangkan dewasa ini harimau kaspia, harimau bali dan harimau jawa sudah dianggap punah.
Harimau jawa diketahui hanya didapati di Pulau Jawa. Harimau jawa tercatat menghuni hutan-hutan dataran rendah, hutan belukar, dan mungkin pula berkeliaran hingga ke kebun-kebun wanatani di sekitar perdesaan, karena pernah pada masanya hewan ini dianggap sebagai hama sehingga banyak diburu atau diracun orang. Wilayah jelajahnya tidak melebihi ketinggian 1.200 m. Harimau jawa biasa memangsa babi hutan, rusa jawa, banteng, dan kadang-kadang juga reptil serta burung air. Ukuran harimau jawa adalah sedikit lebih besar dari kambing. Tubuhnya panjang dan ekornya juga panjang serta mulutnya agak moncong. Badannya berbulu loreng mirip harimau sumatera. Jika berjalan, kaki belakangnya lebih pendek dari kaki depan. Mereka tidak lari jika bertemu manusia. Harimau jawa sering memangsa ternak seperti kerbau dan sapi yang sedang digembalakan.
Pada awal abad ke-19, harimau ini masih banyak berkeliaran di Pulau Jawa. Pada tahun 1940-an, harimau jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil. Ada usaha-usaha untuk menyelamatkan harimau ini dengan membuka beberapa taman nasional. Namun, ukuran taman ini terlalu kecil dan mangsa harimau terlalu sedikit. Pada tahun 1950-an, ketika populasi harimau jawa hanya tinggal 25 ekor, kira-kira 13 ekor berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Sepuluh tahun kemudian angka ini kian menyusut. Pada tahun 1972, hanya ada sekitar 7 harimau yang tinggal di Taman Nasional Meru Betiri.
Ada kemungkinan kepunahan ini terjadi di sekitar tahun 1950-an ketika diperkirakan hanya tinggal 25 ekor jenis harimau ini. Terakhir kali ada sinyalemen dari harimau jawa ialah pada tahun 1972. Pada tahun 1979, ada tanda-tanda bahwa tinggal 3 ekor harimau hidup di Pulau Jawa. Kemungkinan kecil binatang ini belum punah. Pada tahun 1990-an ada beberapa laporan tentang keberadaan hewan ini, walaupun hal ini tidak bisa diverifikasi. Meskipun demikian banyak laporan penampakan harimau jawa di hutan Jateng dan Jatim
Pada tahun 1970 harimau loreng (harimau jawa) masih ada dan sering berpapasan dengan warga di daerah Karang Puteh, lereng Gunung Kendeng, Malang Selatan. Harimau harimau jawa sering terlihat pada malam hari bersama anak-anaknya dan terkena sorot lampu dumptruck milik waduk sutami di area hutan tempat pengambilan batu. Bahkan pada siang hari harimau jawa sering terlihat ketika habitat mereka mulai kritis akibat dirusak untuk pembanguan waduk.
Kucing besar berbulu loreng seringkali melintas di daerah sekitar selatan waduk yang dulunya merupakan hutan jati lebat. Terkadang jumlah mereka mencapai 4 ekor. Waktu itu di lereng gunung kendeng masih banyak terdapat kijang liar dan babi hutan yang menjadi mangsa mereka. Setelah habitat mereka terusik pembangunan waduk sutami dan pemukiman warga, maka harimau jawa pergi ke arah timur. Diperkirakan bertahan hidup di sekitar Alas Purwo di Banyuwangi dan diyakini hingga kini masih ada meskipun sangat sedikit sekali.
Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dilaporkan telah punah oleh World Wildlife Fund pada 1994. Pasalnya, sepuluh kamera jebakan sistem injak yang dipasang WWF di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, tidak berhasil mendapati foto harimau Jawa. Kajian tentang kepunahan harimau Jawa lantas dipertegas oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Kementerian Kehutanan.
Namun, seperti dilansir Mongabay Indonesia pada Senin pekan ini, 2 Juni 2014, Didik Raharyono, peneliti harimau Jawa yang meyakini spesies itu belum punah, dikejutkan oleh kiriman foto harimau Jawa di dinding Facebooknya dari akun bernama Mas Appen. Dari perbandingan morfologi dasar antara kepala dengan leher dan tubuh harimau itu, Didik menganalisis bahwa obyek dalam foto itu merupakan harimau Jawa. Didik pun menyakini harimau Jawa itu berjenis berjenis kelamin betina dan diduga baru melahirkan. Lokasi pengambilan foto itu, masih belum bisa dipastikan. "Lokasinya masih belum diketahui. Apakah di Jawa Tengah atau di dekat perbatasan dengan Ujung Kulon," .
Ciri-ciri harimau jawa menurut saksi mata jaman dulu:
1. Ukuran harimau jawa sedikit lebih besar dari kambing. Badannya panjang, ekornya juga panjang, dan mukanya agak sedikit moncong. Jika berjalan, kaki depan selalu lebih tinggi dari kaki belakang.
2. Harimau jawa tidak lari jika bertemu manusia, melainkan hanya memalingkan muka saja.
3. Harimau jawa memiliki sarang yang digunakan tidur dan mengasuh anaknya. Biasanya sarangnya di tempat-tempat yang dekat dengan air. Mereka selamanya akan tinggal di sarang yang sama selama persediaan mangsa masih ada. Setiap beberapa puluh kilometer persegi hutan, setidaknya ada satu sarang harimau jawa di dekat air.
4. Harimau jawa memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Ia tidak akan menginjak tempat yang pernah dijamah oleh kaki manusia. Selain itu, harimau jawa tidak akan pernah kembali ke tempat yang pernah mereka gunakan berpapasan dengan manusia.
5. Harimau jawa ahli bersembunyi, karena mereka sangat menghindari pertemuan dengan manusia. Menurut kepercayaan jawa, harimau loreng akan kehilangan rejekinya selama 40 hari jika sampai bertemu dengan manusia.
6. Harimau jawa lebih suka daging busuk. Jika mendapat mangsa besar, maka sisanya akan dikubur ditanah selama sekitar sehari semalam, dan setelah mangsa membusuk maka akan mulai disantapnya.
Dapat dikatakan bahwa sebelum tahun 1900-an harimau loreng di Jawa belum mendapat perhatian yang serius, akibatnya perburuan berjalan terus dan seorang pemburu bernama A. J. M. Ledeboer mengaku sempat menembak hampir sepuluh ekor (1910-1940). Hoogerwerf mencatat bahwa sampai dengan sekitar tahun 1940 harimau loreng masih dibunuh dari Malang Selatan (Jawa bagian Timur) dan dari Banten Selatan (Jawa sisi Barat). Sehingga sekitar tahun 1940-an, beberapa Naturalis beranggapan bahwa harimau loreng sepertinya hanya tersisa sedikit dan kemungkinan hanya mampu bertahan hidup di pegunungan yang berhutan lebat yang letaknya terpencil.
Kondisi paska penyerahan Jepang ke pihak Sekutu (1945), mempengaruhi dinamika kehidupan di Pulau Jawa dengan terjadinya pergolakan perang Kemerdekaan. Hal ini juga berimbas terhadap kehidupan harimau jawa, karena walaupun para Naturalis Dunia telah menaruh perhatian besar terhadap kelestarian satwa ini sebelum PD II terjadi, tetap tidak berkesempatan guna memperbaiki populasinya. Baru setelah pertengahan tahun 1950-an (dimana pergolakan politik mulai mereda karena telah berdirinya sebuah Negara Indonesia), Hoorgerwerf melakukan kajian lanjutan harimau jawa di Ujung Kulon, setelah di tahun 1938 beliau berhasil memotret sosok harimau secara langsung dari alam. Namun Hoogerwerf berpendapat bahwa harimau jawa di kawasan ini telah mengalami penurunan populasi. Berdasar alasan itu, banyak konservasionis berpendapat tentang kemungkinan akan kehilangan satu jenis binatang yang tidak mungkin tergantikan, karena disebagian besar kawasan berhutan Pulau Jawa yang tersisa sudah banyak berubah fungsinya.
Sebuah kelangsungan hidup harimau jawa di alam bebas memang sangat bergantung pada adanya perlindungan dan pemeliharaan habitat secara ketat. Oleh karena itu dari informasi yang telah diketahui dengan pasti tentang adanya sejumlah kecil harimau jawa, maka yang berwenang terhadap suatu Kawasan Konservasi diharapkan harus segera bertindak. Hal inilah yang membuat Departemen Pertanian menjadikan petak-petak hutan lindung yang secara keseluruhan merupakan kompleks Meru Betiri ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa dengan surat keputusan Menteri Pertanian dalam bulan Juni 1972.
Ditetapkannya SM Meru Betiri secara resmi merupakan langkah pertama dalam usaha melindungi harimau dan habitatnya. Sejumlah penelitian telah diadakan untuk menentukan status harimau dan menetapkan prioritas-prioritas di dalam pengelolaannya. Penelitian tersebut telah menyajikan pandangan yang sangat berguna tentang status harimau dan keterangan-keterangan penting mengenai fauna lain dan flora di dalam kawasan itu. Laporan dari Bartels dan van der Veen, misalnya,menentukan pentingnya Meru Betiri sebagai salah satu sisa terakhir dari hutan hujan dataran rendah di Jawa, dengan adanya jenis-jenis tumbuhan langka seperti Rafflesia zollingeriana dan Balanophora fungosa catat Steidenstiker (1976).
Dengan tegas pula Steidensticker (1976) mengingatkan kepada kita bahwa dengan semua usaha perlindungan terhadap kawasan tersebut, masa depan harimau jawa maupun masa depan Suaka Margasatwa Meru Betiri belum terjamin, diakibatkan oleh adanya:
-    Tidak pernah dilaporkan adanya perkembang-biakan harimau sejak tahun 1971, yaitu ketika seekor harimau betina ditembak di perkebunan Sukamade.
-    Perlindungan bagi daerah itu jauh dari memadai.
-    Keseimbangan ekologi Suaka itu sangat dirusak oleh adanya enclave dua perkebunan besar yang meliputi sebagian besar lembah-lembah sungai utama yang merupakan habitat yang paling cocok untuk harimau dan mangsanya.
Walaupun begitu, Steidensticker telah berhasil menyusun sebuah panduan pola pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa yang diperuntukkan bagi perlindungan spesies harimau loreng berikut rencana kerja dan landasan obyektif yang menyertainya. Di ikhtisar laporan tersebut Steidensticker mengemukakan bahwa harimau loreng terancam bahaya kepunahan, maka kemungkinan terbaik untuk melindungi harimau loreng di alam bebas ialah dengan cara:
a.    Pengembangan kesadaran dan simpati penduduk terhadap keadaan yang menyedihkan dari binatang tersebut.
b.    Perlindungan yang ketat dari pembunuhan lebih lanjut.
c.    Pengelolaan yang hati-hati dari Suaka Margasatwa Meru Betiri, dimana keperluan untuk hidup bagi harimau dijadikan tujuan yang utama.
Membicarakan harimau jawa Panthera tigris sondaica di Abad XXI, sungguh sangat menggairahkan, terlebih satwa kharismatik yang men-dunia ini hanya ada di Pulau Jawa dan meskipun telah dinyatakan PUNAH namun penelitian lanjutan di era 1990-an masih menjumpai bekas aktivitasnya. Sedangkan perjumpaan dengan harimau loreng juga masih dituturkan masyarakat lokal pemanen hasil hutan di TN Meru Betiri hingga era 2010-an. Oleh karena itu mendalami spesies ini berarti akan belajar manajemen kawasan konservasi di ‘Pulau Terpadat Penduduknya’ sehingga Plasma Nutfah Jawa -hasil Warisan Alam Ribuan tahun yang lalu dapat tetap dilestarikan. Apalagi TN Meru Betiri merupakan salah satu “prototipe” hutan alami Jawa yang terbentang dari permukaan laut hingga ketinggian 1220 m dpl. Yang masih tersisa saat ini.

PENYEBAB KEPUNAHAN HARIMAU JAWA
Hal-hal yang menjadi penyebab punahnya Harimau Jawa, yaitu:
1.      Habitat yang semakin sempit

Lingkungan hidup atau habitat dari Harimau Jawa akibat perkembangan kehidupan manusia, semakin lama menjadi semakin kecil. Hal ini terjadi terutama di Pulau Jawa. Ekosistem harimau jawa saat ini sudah sangat kritis, banyak yang berubah fungsi menjadi perkebunan, Hutan Tanaman Industri (HTI) dan permukiman.
Menurut Osmantri, fungsi lahan tersebut membuat hampir 80 persen populasi harimau berkembang di luar kawasan habitatnya. Jika sudah begitu, terjadilah konflik dengan manusia yang bisa berlanjut dengan upaya untuk membunuh harimau tersebut. Terbatasnya habitat juga menyebabkan Satwa ini menjadi sulit untuk berkembang biak.

2.      Perburuan liar & penegakkan hukum yang lemah

Perburuan harimau yang makin liar oleh sekelompok orang yang hanya memikirkan keuntungan merupakan salah satu penyebab utama Harimau Jawa mencapai angka kepunahan. Masalah ini diperberat lagi dengan penegakkan hukum yang masih lemah terhadap para pelakunya. Akibatnya hal ini membuat para pelaku lainnya tetap melakukan perburuan terhadap harimau Jawa. Kabarnya mereka menggunakan jaringan antar provinsi yang terjalin sangat rapi dan sulit dilacak.
Hal yang sangat memprihatinkan adalah ternyata jaringan perdagangan itu kerap dilindungi oleh oknum pemerintah hingga pemodal besar yang bermuara ke Singapura dan Malaysia. Diperkirakan setidaknya ada 24 pemburu harimau aktif yang menyalurkan hasil buruan ke 34 penampung dari yang kecil hingga penampung besar di Singapura dan Malaysia. Di Pekanbaru, disinyalir sedikitnya ada sembilan toko emas dan dua toko obat cina yang menjual bagian tubuh harimau dengan leluasa.

Pemecahan secara ilmiah:
Sedikitnya ada 3 hal yang harus dibangun di dalam upaya mencegah kepunahan Harimau Jawa yang merupakan salah satu aset bagsa ini, yaitu:
1. Peran pemerintah
Kepunahan Harimau Jawa hanya bisa dilakukan dengan peran aktif yang maksimal dari instansi pemerintah terkait seperti Depertemen Kehutanan, Kementerian Lingkungan hidup, dan instansi lain yang terkait dengan pembuatan UU atau aturan hukum yang berat dan penegakkan hukum yang tegas serta konsisten terhadap para pemburu liar Harimau Jawa. Dengan adanya foto harimau jawa di akun facebook mas apeen,
pemerintah harus terlibat dalam proses verifikasi tersebut karena jika keberadaan harimau Jawa dalam foto yang terdapat di akun facebook tersebut valid, maka harus segera dilakukan upaya perlindungan hutan
2.Peran serta masyarakat
Untuk mencegah kepunahan Harimau Jawa ini juga diperlukan peran aktif masyarakat untuk melaporkan keberadaan Harimau Jawa yang mungkin saja berkeliaran karena habitatnya yang semakin mengecil. Masyarakat juga perlu melaporkan adanya perburuan liar oleh oknum-oknum tertentu terhadap Harimau Jawa.
3.Pembentukan Pusat Penangkaran Harimau Jawa
Pemerintah dan mayarakat pencinta binatang / lingkungan hidup perlu memikirkan upaya untuk membangun pusat penangkaran Harimau Jawa.

1 komentar: